Sejarah Monumen Nasional dan Museum yang Ada di Dalamnya

Monumen nasional atau monas adalah sebuah pertanda monumen peringatan yang dibangun dengan tinggi 132 meter dan bangunan monas sengaja dihadirkan untuk mengenang perjuangan rakyat Indonesia dalam merebut kemerdekaan. Monas mulai dibuka untuk umum sejak tanggal 12 juli 1975 dan berbagai fesilitas monas mulai dikembangkan secara bertahap.

Tugu monas memiliki mahkota lodah api yang dilapisi dengan lembaran emas yang menandakan semangan perjuangan yang berkobar dan tugu monas diletakan di tengah lapangan Medan Merdeka, Jakarta Pusat. Pembangunan monumen nasional memang memiliki sejarah yang panjang, karena pembangunannya tidak mudah dan memerlukan waktu yang lama. Pembangunan monas juga tidak hanya melibatkan satu orang arsitek.

Sejarah Monumen Nasional

Awalnya pusat pemerintahan Indonesia berpusat di Yogyakarta, kemudian dikembalikan ke Jakarta pada tahun 1950 dan keputusan pemindahan setelah adanya pengakuan kedaulatan Indonesia oleh pihak Belanda pada pada tahun 1945. Pada saat ini, presiden Soekarni mulai merancang pembangunan monumen nasional dan akan diletakan di depan istana merdeka.

Tujuan pembangunan tugu monas adalah untuk mengenang perjuangan bangsa Indonesia untuk mendapatkan kemerdekaan pada tahun 1945 dan Monas juga dibangun untuk menjaga semagat patriotisme di kalangan generasi bangsa. Tepat pada tahun 1954, komite nasional yang sengaja dibentuk untuk pembangunan monas melakukan sayembara perancangan monas pada tahun 1955.

Hasil sayembara yang diperoleh, terdapat 51 karya yang masuk ke pihak komite nasional dan karya hasil Frederich Silabanlah yang berhasil masuk kriteria bangunan monas. Frederich Silaban diminta untuk menunjukkan desain rancangannya kepada Soekarno, namun Soekarno kurang menyukai rancangan monas yang dihasilkan.

Soekarno meminta Frederich Silaban untuk membuat rancangan sesuai dengan keinginannya dan rancanganpun jadi, namun desain rancangan Frederich Silaban terlalu mewah. Saat itu kondisi ekonomi negara Indonesia sedang buruk, sehingga tidak sanggup membuat monumen nasional yang mewah.

Soekarno kemudian memerintahkan R.M. Soedarsono untuk melanjutkan rancangan pembangunan monas dan R.M. Soedarsono memasukan berbagai unsur penting dalam bangunannya. Dengan hasil pengerjaan yang sudah selesai, monumen nasionalpun dibangun di sebuah area dengan luas 80 hektar dan pembangunan tugu yang dimulai 17 Agustus 1961 diarsiteki oleh R. M. Soedarsono dengan bekerja sama dengan Frederich Silaban.

Museum Sejarah Nasional

Pada dasar bangunan monumen nasional, terdapat sebuah museum sejarah nasional Indonesia dan luas museum sekitar 80 x 80 meter. Museum sejarah nasional mampu menampung hingga 500 orang pengunjung dan pembuatan bangunan museum berlapiskan marmer. Ada sekitar 51 diorama yang dipajang dan diorama menampilkan sejarah Indonesia dari masa pra sejarah sampai masa orde baru.

Diorama disusun menyesuaikan arah jarum jam, sehingga sesuai dengan perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Para pengunjung yang datang ke musium bisa memperlajari berbagai ilmu sejarah yang ada dan bisa melakukan berbagai kegiatan berfoto. Keberadaan museum sangatlah bermanfaat bagi generasi muda yang ingin mempelajari berbagai sejarah nasional Indonesia dan mengetahui kemegahan desain bangunan monumen nasional.

Kini monas memang menjadi salah satu tujuan study tour berbagai sekolah, karena dengan datang ke museum para pelajar akan mendapatkan banyak ilmu pengetahuan sejarah dan para pelajar juga bisa bermain-main di area monas yang sangat luas. Untuk mengunjunggi monas sangatlah mudah, karena lokasinya strategis dan mudah dijangkau kendaraan.

Demikian ulasan lengkap mengenai sejarah monumen nasional dan semoga semua bahasannya memberikan manfaat bagi para pembaca.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow by Email
LinkedIn
Share
Instagram