Mengenal Sejarah Perkembangan Alat Musik Angklung yang Perlu Diketahui

Angklung adalah sebuah alat musik tradisional yang berkembang pesat di kalangan masyarakat sunda dan bahan dasar pembuatan angklung adalah bambu. Cara penggunaannya hanyalah cukup digoyangkan saja mengikuti irama lagu yang dimainkan dan angklung juga menjadi alat musik yang bisa dipadukan dengan berbagai alat musik lainnya.

Secara umum angklung memiliki beberapa jenis seperti angklung kanekes, angklung reyog dan berbagai jenis angklung yang lain. Jenis angklung kanekes adalah jenis angklung yang identik dengan orng baduy dan hubungannya sangat erat dengan ritus padi. Dulunya orang yang bisa membuat angklung kanekes adalah orang jeroan yang berasal dari suku baduy dalam.

Sejarah Perkembangan Alat Musik Angklung

Secara umum memang tidak ada petunjuk yang jelas, kapan mulainya angklung digunakan. Namun ada berbagai dugaan yang menyebutkan bahwa angklung masih termasuk dalam bagian relik pra-hinduisme. Cerita mengenai sejarah angklung mulai terdengar pada abad ke 12,karena angklung dipakai pada masa kerajaan Sunda.

Terciptanya angklung didasarkan pada pandangan masyarakat sunda yang memiliki pola hidup agraris dan sumber makanan pokonnya berasa dari padi. Pandangan kebanyakan masyarakan sunda memunculkan mitos tentang Nyai Sri Pohaci yang merupakan lambang dewi padi sebagai pemberi kehidupan untuk masyarakat sunda.

Masyarakat baduy adalah masyarakat yang dianggap sebagai bagian akhir atau sisa dari masyarakat sunda yang asli dan suku baduy menggunakan angklung untuk sajian ritual saat mengawali penanaman padi. Sejak dulu ada permainan angklung gubrag yang dilakukan di Jasinga, Bogor dan sampai saat ini masih terus dilestarikan dengan baik.

Kemunculan angklung berawal dari populernya ritus padi, karena dulunya pembuatan angklung menggunakan bahan baku ritus padi. Angklung dimainkan masyarakat sunda untuk menggoda atau memikat Dewi Sri turun ke bumi dan membuat tanaman pada masyarakat menjadi lebih subur. Kepercayaan ini berlangsung dalam waktu yang lama.

Jenis Bambu yang sering dipakai untuk membuat angklung adalah bambu hitam dan bambu ater yang memiliki warna kuning saat sudah mengering. Tiap nada yang dihasilkan dari bunyi tabung selalu berbeda, tergantung dari besar kecilnya bilah bilah bambu yang dibuat. Angklung menjadi alat musik yang berbunyi saat digetarkan atau digoyangkan.

Pada masa kerajaan sunda, masyarakat sunda mengenal angklung sebagai alat musik yang memberi suntikan semangat untuk melakukan peperangan atau pertempuran. Dengan menggunakan angklung, maka semangat rakyat akan terdorong dengan baik dan semangat yang diberikan angklung terasa sampai masa penjajahan, meskipun pihak belanda sempat melarang penggunaan angklung.

Dulunya lagu-lagu yang dipersembahkan untuk dewi sri yang diiringi dengan suara tabuhan bambu yang dikemas dengan sangat sederhana dan hal inilah yang menjadi lahirnya struktur nada dalam alat musik angklung. Para petani sunda juga sering mengadakan pesta panen dan seren taun dengan mempersembahkan musik angklung.

Angklung sangatlah berkaitan dengan upacara penyambutan padi, karena kesenian ini mempertunjukkan berbagai hal yang unik dan arak-arakan selalu dilakukan keliling perkampungan. Dengan seringnya angklung dimainkan, maka popularitasnyapun meningkat dengan pesat hingga sampai ke pulau Kalimantan dan pulau Sumatera.

Sejak tahun 1908, dalam sebuah misi kebudayaan antara Indonesia dengan Thailand dan yang diserahkan pihak Indonesia adalah Anglung, hal ini membuat penyebaran angklung semakin meluas. Pada tahun 1966, Udjo Ngalagena menciptakan berbagai teknik dasar permainan angklung dan Udjo Ngalagena mulai memperkenalkan cara permainan angklung dengan irama yang menarik.

Sekian ulasan lengkap mengenai sejarah perkembangan alat musik angklung dan semoga semua bahasannya bermanfaat bagi para pembacanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow by Email
LinkedIn
Share
Instagram