Sejarah Jalan Cadas Pangeran yang Terkenal Curam

Cadas pangeran adalah sebuah kawasan lereng yang dihasilkan dari berbagai cadas curam dan cadas pangeran menjadi bagian dari pembangunan jalan raya pos di masa penjajahan kolonial Belanda di Indonesia. Jenderal Herman Willem Daendels adalah pimpinan VOC yang mengendalikan pembangunan jalan raya pos.

Dalam proses pembangunan jalan raya pos menuju kota Sumedang, hambatan terjadi pada sebuah perbukitan yang sangat curam dan memiliki batuan cadas yang berbahaya. Pekerja yang membuat jalan adalah warga sekitar cadas pangeran, karena Jenderal Herman Willem Daendels bekerja sama dengan bupati Sumedang bernama Pangeran Kusumadinata IX atau Pangeran Kornel.

Keberanian Pangeran Kornel

Dengan pekerjaan yang sangat berat, tentu membuat banyak pekerja yang tersiksa dan menimbulkan banyak korban nyawa. Pangeran Kornel merasa tidak senang dengan perlakuan pihak Belanda terhadap masyarakat pribumi. Kekesalan Pangeran Kornel itu ditumpahkan saat Daendels melakukan inspeksi dengan melakukan jabat tangan memakai tangan kiri, karena tangan kanannya memegang keris sebagai tanda ancaman.

Pangeran Kornel sangatlah memprotes perlakukan belanda yang bersikap semena-mena, sampai akhirnya Daendels berjanji untuk melanjutkan pembangunan jalan dengan memakai tenaga kerja asal Belanda dan masyarakat pribumi hanya dijadikan pekerja cadangan. Dengan mengandalkan pekerja Belanda dan dibantu peralatan yang lumayan lengkap, akhirnya proses pembelahan perbukitan terselesaikan.

cadas pangeran

Dengan keberanian yang ditunjukkan Pangeran Kornel yang menentang kekuasaan Belanda, jalan yang melintasi kawasan batuan terjal tersebut diberi nama jalan cadas pangeran dan dilengkapi dengan patung Pangeran Kornel di persimpangan jalan cadas pangeran. Patung yang berdiri memperlihatkan cara bersalaman pangeran kornel dengan Daendels yang menggunakan tangan kiri, karena keris ditangan kanannya.

Inovasi Pangeran Aria Soeria Atmadja

Pada tahun 1908 pada masa kepemimpinan Pangeran Aria Soeria Atmadja jalur cadas pangeran dibuatkan jalur baru yang berada di bawah jalur awalnya dan pembangunan dilakukan, karena jalur awal kondisi jalan dianggap terlalu berat dengan tanjakan yang berkelok sangat tajam. Dengan hadirnya jalan baru, tentu jalan cadas pangeran tidak terlalu curam dan membuat kendaraan bisa melintas dengan lebih aman.

Namun menyesuaikan kondisi tebing yang lumayan panjang, jalan cadas pangeran tetap memiliki banyak tikungan tajam. Pada tahun 1990an, jalan cadas pangeran bagian bawah sudah sulit menampung aktivitas kendaraan yang melintas dan apabila ada pertemuan 2 kendaraan besar, maka harus ada 1 kendaraan yang berhenti dulu untuk membuka jalan.

Pada tahun 1995, pemerintah Sumedang bermaksud ingin menghidupkan kembali akses jalan cadas pangeran atas dan memperlebar jalan. Namun saat proses pelebaran dilakukan terjadi sebuah longsor yang sangat besar dan membuat akses jalan menjadi terhalang. Proses pelebaran jalan cadas pangeran bagian ataspun dibatalkan.

Pelebaran jalanpun dilakukan untuk jalan cadas pangeran bagian bawah dan proses pelebaran jalan memakan waktu yang lumayan lama. Proses pelebaran jalan membuat badan jalan menjadi lebih lebar dan badan jalan terlihat seperti menempel pada bagian tebing, karena disangga dengan memakai beton bertulang.

Dengan pelebaran jalan yang baik, maka cadas pangeranpun bisa dilewati berbagai jenis kendaraan dan sampai saat ini menjadi akses jalan yang penting untuk menghubungkan Bandung dengan Sumedang. Kini jalan cadas pangeran terus dikembangkan dengan fasilitas lampu penerangan yang memadai dan kondisi jalan yang terus diperbaiki.

Itulah ulasan lengkap mengenai sejarah jalan cadas pangeran dan semoga semua bahasannya memberikan manfaat bagi para pembacanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow by Email
LinkedIn
Share
Instagram