Mau Tau Malioboro? Beginilah Asal-usul Jalan Malioboro

Malioboro adalah salah satu kawasan wisata yang populer di Yogyakarta dan Malioboro menjadi ikon penting di daerah istimewa Yogyakarta. Kawasan Malioboro terdiri dari tiga jalan yang cukup luas, mulai dari tugu putih sampai ke perempatan kantor pos besar dan kawasan Malioboro cukup kental dengan berbagai nuansa belanjanya.

Tingkat kunjungan wisata ke kawasan Malioboro terus meningkat dari tahun ke tahun dan wisatawan yang berkunjung bukan hanya dari domestik, namun banyak juga wisatawan mancanegara. Malioboro menjadi kawasan yang tidak lepas dari berbagai fakta sejarah, karena nuansa sejarah di Malioboro masih terasa sangat kental.

Asal-usul Jalan Malioboro

Dulunya sempat ada pendapat yang mengatakan bahwa penamaan Malioboro berasal dari sebuah gelar Jenderal yang diperoleh John Churchill dari Inggris yang berbunyi Duke of Marlborough. Namun pendapat ini di patahkan oleh seorang sejarawan populer yang bernama Peter Carey, ia mengatakan bahwa pada pada tahun 1811 sampai 1816 di masa penjajahan dan kekuasaan resmi Inggris di tanah jawa, Yogyakarta tidak secara resmi dikuasai Inggris.

Peter Carey menyatakan bahwa penamaan kawasan Malioboro atau jalan Malioboro berasal dari bahasa sansekerta malyabhaya yang artinya berhiaskan untaian bunga dan pendapat ini diungkapkan, saat Peter Carey menemukan sebuah petunjuk tentang kasusastraan India yang memberikan pengaruh dalam bentuk puisi jawa di jaman kuno.

Semua argumen yang dikeluarkan oleh Peter Carey diperkuat dengan letak keraton Yogyakarta yang bentuknya mirip dengan perencanaan salah satu kota di India yaitu berbentuk segi empat dan letaknya tidak jauh dari kawasan alam. Tak hanya itu, kota di India juga memiliki kemiripan soal titik utamanya dan sama-sama memiliki sebuah gapura.

Berdasarkan rangkaian tradisi yang ada di India, jalan utama yang membentang luas akan dihiasi dengan berbagai untaian bunga atau sering disebut dengan malyabhara saat melakukan proses perayaan. Hal ini sama dengan jalan Malioboro yang selalu dijadikan jalan raya rajamarga yang di dekorasi dengan sangat unik.

Menurut pendapat dari Peter Carey, fungsi utama jalan Malioboro sebagai kawasan perayaan masih berlangsung sampai masa kemerdekaan republik Indonesia dan setiap 5 oktober, jalan Malioboro selalu dijadikan kawasan parade tahunan yang bertepatan dengan hari angkatan bersenjata.

Dengan adanya perkembangan teknologi penerangan listrik pada tahun 1917, kawasan Malioboro yang dulunya berisikan berbagai pemukiman dengan penataan yang rapih dan elegan, kini berubah menjadi berbagai pertokoan yang menjual berbagau jenis produk.

Titik Awal Perkembangan Jalan Malioboro

Perkembangan teknologi lampu gas pada tahun 1890 dan peralihan ke penerangan listrik tahun 1917-1921 menjadikan Jalan Malioboro yang semula merupakan jalan raya seremonial dengan pemukiman yang tertata rapi menjadi pusat pertokoan hingga kini. Jumlah pertokoan terus berkembang dari tahun ke tahun, sehingga menjadikan jalan Malioboro semakin ramai.

Situs kementerian pendidikan dan kebudayaan DIY menyebutkan bahwa kawasan Malioboro mengambarkan konsep makrokosmos yang meliputi berbagai wilayah penting di sekitaran Yogyakarta. Sejarah Malioboro memang sangat kental dengan cerita yang berkembang di masyarakat, tak heran ada banyak versi cerita asal muasal Malioboro.

Sri Sultan Hamengku Buwono adalah orang yang merancang kawasan Malioboro sebagai poros imajiner, karena disebutkan sebagai simbol alam semesta dengan diri manusia. Tujuan perancangan ini, agar menciptakan keharmonisan antara alam semesta dengan manusia dan apabila keduanya seimbang, kaan menghasilkan ketentraman dalam kehidupan.

Demikian ulasan lengkap mengenai asal-usul jalan malioboro dan semoga semua bahasannya memberikan manfaat bagi para pembacanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow by Email
LinkedIn
Share
Instagram