2 Tahun di Laut, Pasangan Ini Tak Tahu Dunia Sedang Dilanda Wabah Corona

Virus Corona telah menjadi wabah pandemi dan menginfeksi hampir seluruh penjuru dunia. Tentunya wabah ini membuat ketakutan tersendiri di kalangan masyarakat. Pemerintah pun mengeluarkan sejumlah kebijakan untuk mengatasi wabah. Beberapa negara melakukan lockdown total dan sebagian lainnya membatasi kegiatan warganya.

Masifnya pemberitaan virus Corona di seluruh media baik cetak maupun digital, hampir tiap hari menghiasi aktivitas warga. Namun rupanya masifnya pemberitaan tentang Covid19 itu sama sekali tidak diketahui oleh pasangan asal Manchester, Inggris Elena Manighetti dan Ryan Osborne. Sebab, sejak 2017 silam keduanya memutuskan untuk menghabiskan waktu dengan berlayar melintasi Samudra Atlantik.

Keduanya meninggalkan kehidupan normal, keluar dari pekerjaan dan pamit kepada keluarga untuk berlayar melintasi Samudra Atlantik. Mereka membeli sebuah perahu layar dengan panjang 11 meter dan mengemasi barang-barang serta menyiapkan kebutuhan untuk memulai pelayaran. 

Mereka memilih membeli perahu, karena kondisi keuangan mereka yang tak mampu untuk digunakan membeli rumah di Inggris. Hal ini juga yang membuat mereka memutuskan untuk menghabiskan waktu dengan berlayar melintasi Samudra Atlantik. 

Untuk mendapatkan pendapatan selama mereka melakukan pelayaran, mereka bekerja sebagai freelancer mengerjakan pembuatan konten artikel dan desain grafis melalui laptop mereka. Meski dengan persiapan yang cukup matang itu, perjalanan mereka tidak selamanya berjalan mulus. Terlebih untuk komunikasi mereka hanya dibekali telepon satelit, yang hanya bisa berkomunikasi dengan batas 160 karakter pesan saja.

Tidak Menerima Kabar Apa Pun

Selama melakukan pelayaran melintasi Samudra Atlantik itu, mereka mengaku sama sekali tidak menerima kabar apapun mengenai wabah pandemi Covid19. Sebab, ketika memutuskan untuk mulai berlayar, mereka meminta kepada keluarga dan teman-temannya untuk tidak mengganggu dan membiarkan mereka berdua menyendiri di tengah laut. 

Alhasil Elena dan Ryan sama sekali tidak mendapatkan informasi dan kabar terbaru mengenai kondisi yang terjadi di dunia. Sebenarnya mereka sudah mengetahui mengenai kabar tentang adanya sebuah virus yang menginfeksi sebuah kota di China. Mereka mendapatkan kabar itu saat berlabuh di pulau Lanzarote, daerah Afrika Barat pada 28 Februari. 

Namun saat itu pemberitaan mengenai virus Corona belum begitu masif. Mereka saat itu menganggap sedang terjadi infeksi penyakit flu kecil dan itupun segera mereda. Mereka pun memutuskan untuk melanjutkan pelayaran, dan mematikan ponsel mereka.

Baru pada tanggal 25 Maret saat hendak berlabuh di Karibia dan Ryan mulai menyalakan ponsel, mereka terkejut dan merasa tidak percaya dengan apa yang sedang terjadi. Mereka merasa seperti bangun dari koma, dan melihat kondisi sekitar sudah tidak seperti pada umumnya.

Ditolak Berlabuh Dan Dikarantina

Mendengar kabar tersebut, Elena dan Ryan akhirnya memutuskan untuk kembali pulang. Mereka memutuskan pergi ke rumah Elena yang berada di Lombardy, Italia. Saat itu mereka juga belum mengetahui jika Italia telah menjadi negara tertinggi jumlah penderita Covid19, dengan jumlah kematian yang cukup besar.

10 Jam sebelum bersandar di pelabuhan, mereka mendapatkan informasi dari kolega bahwa kemungkinan besar mereka akan ditolak di Lombardy. Sebab dengan kasus yang sangat tinggi, membuat pemerintah Italia mengeluarkan kebijakan lockdown, termasuk arus transportasi berbagai moda transportasi harus ditutup.

Elena juga mendapatkan kabar jika tempat tinggalnya menjadi wilayah di Italia yang paling tinggi kasus kematian akibat Covid19. Dia dikirimi sejumlah foto oleh keluarganya yang menampilkan sejumlah truk-truk militer mengangkut ribuan peti mati, karena telah kehabisan peti mati dan lahan untuk menguburkan para korban dari Covid19. 

Dengan adanya sejumlah wilayah melakukan lockdown, mereka pun khawatir tidak bisa kembali pulang. Setelah beberapa kali mendapatkan penolakan dari banyak pelabuhan, mereka akhirnya bisa bersandar di pelabuhan Bequia, sebuah pulau di wilayah Saint Vincent & Grenadines.

Proses berlabuh itupun juga tidak mudah begitu saja. Keduanya harus meyakinkan kepada petugas pelabuhan mengenai perjalanan mereka. Mereka dibolehkan berlabuh, namun dengan syarat harus menjalani masa karantina selama kurang lebih 25 hari di tengah laut. Setelah menjalani karantina, keduanya kini sudah berada di rumah dan berkumpul kembali dengan keluarga. Pengalaman ini pun menjadi pengalaman paling berharga bagi keduanya.

One Reply to “2 Tahun di Laut, Pasangan Ini Tak Tahu Dunia Sedang Dilanda Wabah Corona”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow by Email
LinkedIn
Share
Instagram